Jika anda mendukung semua kegiatan sosial Yayasan Indometro,bisa membantu kami dengan menyisihkan sedikit rezeki anda ke BNI 2018071309 an Yayasan Indometro Indonesia

Sunday, December 30, 2018

Jatuh Bangun Rupiah di 2018, Dolar AS Sempat Rp 15.200

Foto: Rengga Sancaya
Jatuh Bangun
INDOMETRO-BISNIS - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tercatat mengalami naik turun sejak awal tahun 2018 ini. Mulai dari di atas angin, hingga sangat tertekan oleh mata uang Paman Sam. 

Mengutip Reuters, pada Januari 2018 dolar AS terus melemah bahkan hingga level Rp 13.289. Tren positif itu terus berlangsung hingga akhir Januari. Kemudian memasuki Februari 2018, dolar AS mulai menguat. Pada akhir bulan itu dolar AS menguat hingga level Rp 13.745.

Pada Maret 2018, dolar AS terhadap rupiah mulai seimbang. Dolar AS sepanjang bulan berada di kisaran Rp 13.700an. Dolar AS mulai masuk ke level Rp 14.000 pada Mei 2018. Dolar AS menyentuh level Rp 14.080 pada 10 Mei 2018. Kemudian ke level Rp 14.185 pada 21 Mei 2018

Hingga awal Juni rupiah kembali menguat dan meninggalkan level Rp 14.000. Namun pada 28 Juni 2018 dolar AS kembali sentuh level Rp 14.390. Dolar AS terus menunjukkan keperkasaannya setelah ditopang berbagai gejolak perekonomian global. Ditambah lagi tren kenaikan suku bunga Bank Sentral AS The Fed. 

Pada 5 September 2018 dolar AS tembus level Rp 14.935. Lalu untuk pertama kali dolar AS tembus Rp 15.001 pada 2 Oktober 2018. Pada 5 Oktober 2018, dolar AS kembali melejit dan menembus level Rp 15.180. Level itu terus bertahan selama beberapa hari.

Artikel Terkait :

Penguatan dolar AS pun semakin menjadi-jadi. Pada 11 Oktober 2018 dolar AS menembus level Rp 15.235 yang merupakan level tertinggi. Akibat tingginya nilai dolar AS ini BI melakukan intervensi di pasar valuta asing (valas). 

Cadangan devisa Indonesia tercatat sempat merosot sejak awal tahun, tercatat US$ 114,8 miliar. Jumlah ini tercatat mengalami penurunan dibandingkan periode Agustus 2018 US$ 117,9 miliar. 
"Penurunan cadangan devisa pada September 2018 terutama dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.

Terakhir cadangan devisa Indonesia periode November 2018 tercatat US$ 117,2 miliar. Angka ini cukup untuk membiayai 6,5 bulan impor atau 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. 

Hingga akhir tahun ini, dolar AS tercatat berada di kisaran Rp 14.400 - Rp 14.500. Menurut BI angka ini masih undervalued namun cenderung mengalami penguatan dan lebih stabil.

"Nilai rupiah sekarang ini masih undervalued dan ke depan faktor positifnya untuk membuat rupiah stabil adalah dari domestik dan dari sisi global," jelas dia.

Dia menyampaikan aliran modal asing yang masuk berdampak positif kepada perekonomian domestik dan tetap kondusif meskipun ada eskalasi ketegangan hubungan dagang AS dan China yang sempat mereda.
"Pada Desember 2018, Rupiah mendapat tekanan dipengaruhi kembali meningkatnya ketidakpastian global serta meningkatnya permintaan valuta asing musiman untuk kebutuhan akhir tahun," kata Perry.

Ke depan, Bank Indonesia terus mewaspadai risiko ketidakpastian pasar keuangan global dengan tetap melakukan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar sesuai nilai fundamentalnya, dengan tetap mendorong berjalannya mekanisme pasar dan mendukung upaya-upaya pengembangan pasar keuangan.(df)

0 Comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More