Menteri BUMN Rini Soemarno/Foto: Pool
Rini Soemarno
INDOMETRO-BISNIS - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno buka suara soal laporan keuangan 2018 PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) yang dianggap terdapat kejanggalan hingga akhirnya dipersoalkan oleh dua komisarisnya.

Garuda memperoleh laba bersih US$ 809,85 ribu di 2018. Perolehan laba berasal dari piutang yang dimasukkan ke pos pendapatan. Hal itu menjadi ramai ketika ada kabar dua komisaris menolak menandatangani laporan keuangan tersebut.

Piutang yang dimaksud berasal dari kontrak kerja sama dengan PT Mahata Aero Teknologi untuk pemasangan layanan konektivitas (on board WiFi) dan hiburan pesawat. Nilai kontrak yang ditandatangani Desember 2018 itu mencapai US$ 239,94 juta.



Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno menegaskan bahwa laporan keuangan tersebut sebelum dirilis sudah mendapatkan persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
"Kita perusahaan publik itu kan harus di-approve di OJK, sebelum kita RUPS kemarin itu OJK sudah harus menyetujui bahwa laporan keuangan kita itu benar dan memang bisa diterima dan itu sudah dilakukan," kata Rini ditemui di Purwakarta, Jumat (26/4/2019).
Dia mengaku heran kenapa laporan keuangan tersebut dipermasalahkan. Apalagi kata Rini laporan keuangan Garuda sudah diaduit oleh akuntan independen yang dapat dipercaya.
"Itu yang saya nggak ngerti kenapa dipermasalahkan, karena secara audit sudah keluar dan itu kan pakai auditor akuntan publik yang independen dan sudah dikenal," paparnya.(df)