Usai Pemilu Pasar Menguat, Apakah Berarti Ekonomi Indonesia Membaik?

https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2019/04/19/5cb9089f35a4f-pemilu-2019-pasar-menguat-apakah-berarti-ekonomi-indonesia-membaik_375_211.jpg
Pembangunan jalan tol Serang-Panimbang sepanjang 83,6 kilometer merupakan salah satu realisasi program strategis pemerintah yang menelan dana Rp5,3 triliun dan ditargetkan selesai akhir 2019.
INDOMETRO-BISNIS - Seusai hasil hitung cepat beberapa lembaga survei yang mengatakan Joko Widodo - Ma`ruf Amin memenangkan Pilpres 2019, IHSG naik 0.40% pada Kamis (18/04). Apakah "Jokowi effect" berulang kembali?

Lana Soelistianingsih, Chief Economist di Samuel Sekuritas Indonesia Tbk mengatakan itu adalah "Jokowi effect" - terminologi yang muncul pertama kali seusai pemilihan presiden 2014 yang menunjukkan efek positif terpilihnya Jokowi terhadap perekonomian Indonesia.
"Ketika hasilnya keluar, itu sejalan dengan ekspektasi pasar. Yang kedua, ketidakpastian sudah berkurang banyak," ungkap Lana.
Namun, efek ini tidak akan bertahan lama, menurut Lana.
"Karena kita sudah mengenal Pak Jokowi dan program-program kerjanya sudah pernah kita ketahui," ujar Lana.
Faktor kabinet
Pergerakan nilai saham di Bursa Efek Jakarta. - AFP
Lantas apa dampaknya ke kita, masyarakat biasa ini?
Kita masih harus menunggu sampai Oktober mendatang.
"Sektor riil akan menunggu kebijakan-kebijakan yang sifatnya lebih lama," kata Lana
Kebijakan ini akan dibuat oleh para menteri terpilih yang biasanya akan diumumkan presiden terpilih pada Oktober.
"Sekarang ini efektivitas pemerintahan sekalipun konsentrasinya mestinya sudah kembali lagi, tapi karena ada ketidakjelasan apakah menteri akan lanjut atau tidak, jadi kalau menteri ini ada potensi diganti, dia tidak akan melakukan kebijakan yang strategis. Ini akan mengurangi daya dorong dari fiskal," jelas Lana
"Kalau dia tanda tangan suatu proyek strategis, kemudian menterinya diganti, proyeknya belum tentu jalan juga ," tambahnya.
Faktor eksternal
Selain kebijakan internal, yang tak kalah penting adalah faktor eksternal, menurut Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual.
Artikel Terkait :
"Faktor eksternal lebih dominan ke depan. Perang dagang AS-Tiongkok juga jadi perhatian pasar. Harga komoditas juga sudah mulai recover satu bulan terakhir ini," ungkap David.
"Sayangnya Indonesia masih sangat bergantung dengan komoditas."
Faktor fundamental
Pada Kamis, sebagian harga saham terkait infrastruktur naik dan . Apakah maknanya bagi perusahaan-perusahaan itu?
"Ini sebatas sentimen," jawab David.
"Yang dilihat investor itu fundamentalnya seperti apa. Bisa menghasilkan laba dan deviden tidak?" imbuhnya.
Untuk perusahaan terkait infrastruktur sendiri juga bukan berarti selamanya "hijau".
"Infrastruktur mungkin akan melambat, jadi akan ada batas kenaikannya. Pembiayaannya juga sudah menipis. Tapi setidaknya ketika beliau terpilih sekarang ini proyek-proyek ini tidak akan terbengkalai. Sehingga masih dibeli oleh market," papar Lana.(vv)