Jika anda mendukung semua kegiatan sosial Yayasan Indometro,bisa membantu kami dengan menyisihkan sedikit rezeki anda ke BNI 2018071309 an Yayasan Indometro Indonesia

Friday, May 17, 2019

Dibutuhkan Ekspor Rp3.409 Triliun untuk Ekonomi Tumbuh 5,3 Persen

Ilustrasi Ekspor Impor
Ekspor
INDOMETRO-BISNIS - Komite Ekonomi dan Industri Indonesia atau KEIN menyoroti buruknya neraca perdagangan Indonesia yang mengalami defisit sebesar US$2,5 miliar. Defisit itu disebut-sebut akibat dari harga komoditas yang anjlok, sedangkan volume ekspor dianggap memiliki kinerja yang cukup baik.
Wakil Ketua Umum KEIN, Arief Budimanta mengatakan, baiknya kinerja ekspor tersebut tergambar dari volume ekspor di sektor minyak dan gas bumi selama Januari-April 2019 yang masih tumbuh 13,07 persen, dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, secara nilai pada periode yang sama cenderung turun, yakni negatif 8,54 persen. Oleh sebab itu, karena kinerja ekspor Indonesia yang masih didominasi sektor komoditas mentah, banyaknya barang yang diekspor itu tidak mampu mendorong nilai ekspor secara keseluruhan.
"Harga komoditas itu turun cukup signifikan. Jadi walaupun secara volume meningkat tetapi secara nilai terjadi penurunan," katanya di Kantor KEIN, Jakarta, Jumat 17 Mei 2019.
Artikel Terkait :
Dengan catatan kinerja neraca ekspor pada akhir Kuartal I 2019 tersebut, maka dia menilai pemerintah harus bekerja keras mendorong ekspor supaya mampu mengejar target pertumbuhan ekonomi di posisi 5,3 persen pada tahun ini.
Sebab, berdasarkan hitungannya, supaya target pertumbuhan itu tercapai, maka secara keseluruhan tahun 2019 pemerintah harus mendorong ekspor mancapai angka Rp3.409 triliun. Adapun pertumbuhan ekonomi sepanjang 2018 yang sebesar 5,17 persen, berhasil dicapai dengan nilai ekspor sebesar Rp2.502 triliun.
"Kalau kita mau peningkatan ekspor maka harus terukur dan setiap bulan tercapai atau tidak dilihat. 2019 kita akan tumbuh 5,3 persen maka terlihat nilai ekspor kita minimal Rp3.409 triliun," tuturnya.
Untuk itu dia merekomendasikan, jika pemerintah masih terpaku terhadap ekspor barang-barang komoditas mentah dengan harga atau nilai yang tidak dapat dikendalikan, maka hal itu akan sulit tercapai. Sehingga, industri ke depannya harus didorong memproduksi barang bernilai tambah tinggi.
"Maka arah industrialisasi kita harus kita kembangkan kepada yang memiliki nilai tambah tinggi atau masuk ke turunan tiga dan empat," ujarnya. (vv)

0 Comments:

Post a Comment

Buka Akun Disini Yok !!!

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More