Foto: Kementan
Cabai

INDOMETRO-BISNIS - Saat bulan Ramadan tahun ini, para petani cabai rawit merah di Tuban Jawa Timur justru sedang memasuki panen raya. Hal tersebut menyebabkan hasil panenan cabai melimpah yang berimbas pada turunnya harga jual di tingkat petani. Alih-alih berharap mendapat harga bagus, para petani cabai di Tuban justru mengeluh harga jualnya di bawah rata-rata normal.

Mendapat laporan kondisi harga cabai di Tuban, Tim Direktorat Jenderal Hortikultura bersama Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian bergerak cepat terjun ke lokasi untuk menemui para petani. Tim Kementan juga mengajak para pelaku usaha swasta untuk menyerap langsung panenan cabai. 

Artikel Terkait :

Direktur Jenderal Hortikultura, Suwandi menyebut pihaknya bergerak cepat karena tak ingin petani cabai kecewa. Bahkan langsung mengajak beberapa mitra swasta dan Toko Tani Indonesia untuk langsung menyerap panenan rawit merah di Tuban dengan harga yang layak.

"Hari ini tim kami langsung terjun ke Tuban. Kita klarifikasi dan cari solusi konkrit bersama-sama. Jadi petani tidak mengalami kerugian," kata Suwandi dalam keterangannya, Senin (13/5/2019).

Selain itu, Kementan juga mendorong pemda setempat aktif menggerakkan ASN nya untuk membeli atau mengadakan pasar murah. Upaya ini dipastikan sangat cepat membantu harga cabai petani naik ke posisi normal.

"Cabai petani kita bantu jual dengan harga sepantasnya," kata Suwandi.
Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Moh Ismail Wahab menambahkan, saat ini beberapa sentra produksi cabai di Jawa sedang memasuki panen raya. Satu sisi masyarakat terbantu karena pasokan di bulan puasa dan Idul Fitri nanti melimpah. 

"Namun di sisi lain kita tidak mau petani rugi. Kami bertindak cepat membantu petani agar harga tidak terlalu murah," sebutnya.

"Dalam jangka pendek, hasil panenan akan diserap oleh beberapa mitra swasta untuk kemudian dijual di pasar DKI Jakarta," imbuhnya.

Lebih jauh Ismail menghimbau petani untuk ke depannya menerapkan budidaya yang baik dan ramah lingkungan. Sebab, yang jadi masalah sebenarnya bukan harga yang murah, tapi biaya produksi yang masih tinggi dan kualitas produksi yang kurang bagus. 

Oleh karena itu, lanjutnya, ongkos produksi sebisa mungkin harus ditekan agar efisien. Kualitas produk akan terjaga sejak di pertanaman kalau petani mau menerapkan budidaya ramah lingkungan. 

"Jadi nanti petani senang, konsumen pun tenang. Produksi panenan bagus, harga terjangkau," tegas Ismail.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tuban, Murtadji menyambut baik upaya dari Kementan yang melakukan pembelian cabai secara langsung kepada petani. Tahap awal, disepakati pembelian 7 ton cabe keriting dan 3 ton cabe rawit merah dengan harga Rp 8 ribu per kg untuk dijual melalui Toko Tani Indonesia ke pasar Jakarta. 

"Penyerapan berikutnya direncanakan akan dilakukan oleh industri olahan dan pelaku usaha swasta," ujarnya.
Rencananya, Murtadji akan menerbitkan aturan untuk mewajibkan ASN di lingkungan Pemda Tuban, pegawai BUMD maupun BUMN di wilayah Tuban untuk membantu petani dengan cara membeli hasil panen petani cabai. Sekarang ini sudah ada PERDA yang mewajibkan ASN membeli beras produk petani. 

"Kami akan tambahkan lagi, ASN wajib membeli cabai petani dengan harga di atas rata-rata yang dibeli pedagang," tandasnya.

Perlu diketahui, harga cabai petani saat ini di Tuban seperti dialami oleh para petani di Kecamatan Grabagan, Kabupaten Tuban, harga cabai rawit merah di tingkat petani hanya Rp 3.000 hingga Rp 4.000 rupiah per kg. 

Padahal normalnya di atas Rp 10.000 per kilogram. Tak tanggung-tanggung, produksi cabai di sentra Tuban saja pada bulan Mei ini mencapai 80 ton untuk cabai rawit merah dan 50 ton cabai keriting.

Suiswanto, petani cabai asal Grabagan, Tuban mengaku prihatin dengan turunnya harga cabai saat panen raya bulan ini. Panenan rawit merah bulan ini sangat banyak. Harga cuma Rp 4.000-an di tingkat petani untuk grade campuran, tidak disortir. 

"Kalo grade A atau B yang sudah disortir harganya antara Rp 5.000 sampai Rp 7.000 per kilonya," ujarnya.

Alasan pedagang yang biasa membeli, cabai dihargai Rp 4.000-an karena cabai masih bercampur dengan buah yang rusak atau terkena patek. Jumlahnya bisa mencapai 30-40 %. 

"Jadi pengepul ya cuma berani beli segitu tadi. Ono rego, ono rupo (ada rupa, ada harga)," katanya Suiswanto.(df)